Nvidia, produsen chip grafis terbesar di dunia, mencatatkan lonjakan pendapatan kuartalan sebesar 85 persen — sebuah rekor baru — yang didorong oleh gelombang besar investasi global dalam infrastruktur kecerdasan buatan (AI) dan pusat data. Capaian ini menegaskan posisi Nvidia sebagai tulang punggung utama dari revolusi teknologi AI yang sedang berlangsung secara masif.

Pertumbuhan luar biasa ini tidak datang tiba-tiba. Sejak kemunculan model bahasa besar seperti ChatGPT pada akhir 2022, permintaan terhadap unit pemrosesan grafis (GPU) buatan Nvidia meledak secara dramatis. Perusahaan-perusahaan teknologi raksasa seperti Microsoft, Google, Meta, hingga Amazon berlomba membangun kapasitas komputasi untuk mengoperasikan dan melatih model AI mereka, dan hampir semuanya mengandalkan chip Nvidia sebagai komponen inti.

Segmen pusat data menjadi mesin utama pertumbuhan Nvidia, menyumbang porsi terbesar dari total pendapatan perusahaan. Chip seri H100 dan A100 milik Nvidia menjadi komoditas paling dicari di pasar teknologi global, bahkan kerap mengalami kelangkaan akibat tingginya permintaan yang belum mampu diimbangi kapasitas produksi.

Fenomena ini mencerminkan pergeseran besar dalam lanskap industri teknologi dunia. Perusahaan-perusahaan dari berbagai sektor — mulai dari keuangan, kesehatan, manufaktur, hingga pemerintahan — kini berlomba mengintegrasikan AI ke dalam operasional mereka, yang secara langsung mendongkrak kebutuhan akan infrastruktur komputasi bertenaga tinggi.

Kinerja keuangan Nvidia yang gemilang ini juga berdampak signifikan terhadap pasar modal global. Valuasi perusahaan yang berbasis di Santa Clara, California, Amerika Serikat ini menembus angka triliunan dolar, menjadikannya salah satu perusahaan paling bernilai di dunia dan simbol nyata dari era kebangkitan AI.

Para analis pasar memperkirakan tren pertumbuhan ini akan berlanjut dalam beberapa kuartal ke depan, seiring dengan rencana ekspansi infrastruktur AI yang masih berjalan di berbagai belahan dunia. Namun sejumlah kalangan juga memperingatkan potensi risiko, termasuk tekanan regulasi pemerintah di berbagai negara terhadap pengembangan AI serta persaingan yang semakin ketat dari produsen chip lain seperti AMD dan Intel.