Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim telah membatalkan rencana serangan militer baru terhadap Iran pada Selasa (19/05/2025), setelah negara-negara Teluk memintanya untuk menahan diri di tengah berlangsungnya negosiasi diplomatik yang disebut Trump sebagai "sangat serius".

Pernyataan itu disampaikan Trump secara langsung dan menjadi sinyal paling eksplisit sejauh ini bahwa Amerika Serikat tengah mempertimbangkan opsi militer terhadap Teheran, sementara di sisi lain jalur perundingan nuklir masih dibuka. Trump tidak merinci negara Teluk mana yang menyampaikan permintaan tersebut, namun Arab Saudi dan Uni Emirat Arab selama ini dikenal sebagai mitra strategis Washington di kawasan yang juga memiliki kepentingan langsung atas stabilitas regional.

Pernyataan Trump ini muncul di tengah ketegangan yang telah berlangsung berbulan-bulan antara Washington dan Teheran, seiring kebuntuan perundingan program nuklir Iran. Amerika Serikat dan sekutu Baratnya menuding Iran terus mengembangkan kemampuan pengayaan uranium mendekati tingkat senjata, sementara Iran bersikeras bahwa program nuklirnya bersifat damai.

Klaim pembatalan serangan ini sekaligus mencerminkan dinamika tekanan ganda yang dihadapi Trump: desakan domestik dan dari Israel untuk mengambil tindakan tegas terhadap Iran di satu sisi, serta dorongan dari mitra Teluk yang khawatir eskalasi militer akan mengguncang stabilitas ekonomi dan keamanan kawasan di sisi lain.

Para analis menilai, pernyataan Trump — jika benar — mengindikasikan bahwa negara-negara Teluk memainkan peran mediasi yang semakin signifikan dalam konflik AS-Iran. Langkah ini juga memberi ruang bagi diplomasi untuk bekerja, meskipun batas waktu yang ditetapkan Washington terhadap Teheran semakin menyempit.

Hingga berita ini diturunkan, pemerintah Iran maupun negara-negara Teluk yang dimaksud belum mengeluarkan pernyataan resmi yang mengonfirmasi atau membantah klaim Trump tersebut. Komunitas internasional memantau perkembangan ini dengan seksama, mengingat setiap eskalasi di kawasan Teluk berpotensi berdampak langsung pada pasar energi global.