Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menegaskan bahwa stabilitas ekonomi merupakan fondasi yang tidak bisa diabaikan apabila Indonesia ingin mencapai target pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan hingga tahun 2027. Pernyataan ini disampaikan sebagai respons atas berbagai tantangan struktural yang masih membayangi perekonomian nasional.
Menurut Faisal, stabilitas ekonomi mencakup beberapa dimensi penting, mulai dari pengendalian inflasi, kestabilan nilai tukar rupiah, hingga keterjagaan defisit fiskal dalam batas yang aman. Ketiga elemen tersebut saling berkaitan dan menjadi penentu apakah iklim investasi akan cukup kondusif untuk mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan.
"Tanpa stabilitas, target pertumbuhan hanya akan menjadi angka di atas kertas. Investor domestik maupun asing membutuhkan kepastian dan prediktabilitas kebijakan sebelum mereka mengalirkan modal ke dalam negeri," ujar Faisal.
CORE menilai bahwa tekanan eksternal seperti ketidakpastian ekonomi global, fluktuasi harga komoditas, serta dinamika geopolitik tetap menjadi risiko nyata yang perlu diantisipasi pemerintah secara proaktif. Di sisi internal, reformasi struktural di bidang ketenagakerjaan, birokrasi, dan infrastruktur dinilai masih perlu dipercepat agar daya saing Indonesia tidak tertinggal dari negara-negara tetangga di kawasan.
Faisal juga menyoroti pentingnya sinergi antara kebijakan moneter Bank Indonesia dan kebijakan fiskal pemerintah pusat. Koordinasi yang solid antara kedua otoritas ini, menurutnya, akan menjadi penyangga utama kestabilan di tengah tekanan global yang belum mereda sepenuhnya.
Dalam jangka menengah, CORE memproyeksikan bahwa Indonesia memiliki peluang realistis untuk mempertahankan pertumbuhan di kisaran lima persen per tahun, asalkan bauran kebijakan yang diterapkan konsisten dan tidak terdistorsi oleh kepentingan jangka pendek, termasuk dalam tahun-tahun menjelang siklus politik.
Lembaga riset ekonomi independen ini mendorong pemerintah untuk memprioritaskan kualitas pertumbuhan, bukan sekadar mengejar angka. Penyerapan tenaga kerja yang optimal, pemerataan distribusi pendapatan, serta pertumbuhan sektor manufaktur bernilai tambah tinggi disebut sebagai indikator keberhasilan yang lebih bermakna dibandingkan angka PDB semata.