Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut masyarakat pedesaan tidak menggunakan dolar dalam kehidupan sehari-hari menuai kritik tajam dari kalangan ekonom. Respons tersebut dinilai tidak tepat dalam menanggapi tekanan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang tengah berlangsung.

Para pengamat ekonomi menyebut pernyataan itu sebagai bentuk penyederhanaan berlebihan atas persoalan yang sesungguhnya kompleks. Setidaknya dua catatan kritis dilontarkan: pernyataan tersebut dinilai mencerminkan sikap meremehkan masalah, sekaligus berpotensi menjadi bumerang apabila pelemahan rupiah terus berlanjut tanpa respons kebijakan yang memadai.

Meski secara harfiah benar bahwa transaksi harian di pedesaan menggunakan rupiah, para ekonom mengingatkan bahwa dampak depresiasi mata uang tidak terbatas pada masyarakat yang bertransaksi langsung dengan valuta asing. Pelemahan rupiah berimbas luas pada harga barang impor, biaya produksi, hingga inflasi yang pada akhirnya dirasakan seluruh lapisan masyarakat, termasuk warga di perdesaan.

Lebih jauh, sinyal yang dikirimkan pemimpin negara kepada pasar keuangan dinilai tak kalah penting dari kebijakan teknis itu sendiri. Pernyataan yang terkesan mengecilkan kekhawatiran investor dan pelaku pasar dapat mengurangi kepercayaan terhadap komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi makro.

Tekanan terhadap rupiah merupakan fenomena yang tidak bisa direspons hanya dengan menenangkan publik secara retoris. Dibutuhkan langkah konkret berupa koordinasi kebijakan fiskal dan moneter, penguatan cadangan devisa, serta komunikasi publik yang cermat agar tidak menimbulkan persepsi negatif di pasar.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari Istana Kepresidenan maupun Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian terkait pernyataan Presiden Prabowo tersebut.