Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato perdananya di hadapan rapat paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Senin, dengan memaparkan sejumlah arah kebijakan ekonomi nasional di tengah tekanan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Dalam pidato tersebut, Prabowo menugaskan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk mengambil peran strategis dalam pengendalian ekspor komoditas unggulan Indonesia.
Penugasan BUMN sebagai pengendali ekspor komoditas dinilai sebagai langkah untuk memastikan nilai tambah sumber daya alam tetap optimal bagi perekonomian domestik. Prabowo menekankan bahwa pengelolaan komoditas strategis tidak boleh sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme pasar tanpa pengawasan negara, mengingat volatilitas harga global yang kerap merugikan pendapatan nasional.
Dalam pidatonya, Presiden juga menetapkan sejumlah target ekonomi jangka menengah pemerintahannya. Salah satu yang paling menonjol adalah ambisi mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar delapan persen pada 2029, atau di penghujung masa jabatan pertamanya. Target tersebut jauh melampaui realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir yang rata-rata berada di kisaran lima persen.
Prabowo turut menyinggung target antara, yakni pertumbuhan ekonomi pada 2027 sebagai tonggak ukur ketercapaian program-program prioritas pemerintah. Ia menyatakan optimisme bahwa dengan penguatan hilirisasi industri, peningkatan investasi, serta efisiensi belanja negara, target-target tersebut dapat diraih secara bertahap.
Pidato perdana di DPR ini disampaikan dalam suasana yang diwarnai kekhawatiran pasar terhadap kondisi ekonomi global, termasuk tekanan pada mata uang negara-negara berkembang. Rupiah mengalami pelemahan dalam beberapa waktu terakhir, sehingga pidato Prabowo diharapkan dapat memberikan sinyal kepastian kebijakan kepada para investor dan pelaku usaha.
Sejumlah kalangan ekonom menilai target pertumbuhan delapan persen merupakan tantangan berat yang membutuhkan reformasi struktural menyeluruh, mulai dari perbaikan iklim investasi, penguatan infrastruktur, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia. Realisasi target tersebut juga sangat bergantung pada kondisi ekonomi global yang tengah dihadapkan pada ketidakpastian tinggi.