Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah pada perdagangan sesi I, Rabu (20/5/2025), dengan tekanan utama berasal dari koreksi di sektor basic materials dan energi yang menjadi pemberat laju indeks sepanjang paruh pertama perdagangan hari ini.
Pelemahan IHSG pada sesi pertama mencerminkan sentimen kehati-hatian pelaku pasar di tengah dinamika harga komoditas global yang cenderung berfluktuasi. Sektor basic materials, yang mencakup emiten berbasis bahan baku seperti baja, kimia, dan semen, serta sektor energi yang didominasi perusahaan minyak dan batu bara, mengalami tekanan jual yang cukup signifikan sehingga menyeret indeks ke zona merah.
Kondisi ini sejalan dengan tren pelemahan harga komoditas di pasar internasional, di mana harga minyak mentah dan beberapa logam industri masih dalam tekanan akibat kekhawatiran perlambatan permintaan global, terutama dari Tiongkok sebagai konsumen komoditas terbesar dunia.
Para analis pasar modal menilai bahwa koreksi pada dua sektor tersebut bersifat teknikal setelah keduanya mencatat penguatan dalam beberapa sesi sebelumnya. Namun demikian, faktor eksternal seperti ketidakpastian kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) juga turut mempengaruhi selera risiko investor di pasar saham domestik.
Sementara itu, volume dan nilai transaksi pada sesi I terpantau dalam kisaran normal, menandakan bahwa tekanan jual yang terjadi belum disertai aksi panic selling dari pelaku pasar. Investor asing masih menjadi pihak yang dicermati arah transaksinya, mengingat aliran modal asing kerap menjadi indikator sentimen terhadap pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Perdagangan sesi II pada sore harinya akan menjadi penentu arah penutupan IHSG secara keseluruhan, dengan pelaku pasar menanti rilis data ekonomi domestik serta perkembangan situasi geopolitik global yang dapat mempengaruhi pergerakan indeks hingga akhir perdagangan.