Serangkaian tindakan intimidasi dan pembubaran paksa terhadap kegiatan nonton bareng (nobar) Film Pesta Babi terjadi di Indonesia dalam beberapa pekan terakhir. Ironisnya, tekanan tersebut tidak menyurutkan minat publik — permintaan pemutaran film itu justru diklaim mengalami peningkatan signifikan.
Film Pesta Babi menjadi sorotan luas setelah sejumlah kegiatan nobar di berbagai daerah mendapat gangguan dari kelompok-kelompok tertentu. Para penyelenggara dilaporkan menghadapi tekanan langsung, mulai dari ancaman verbal hingga pembubaran paksa di lokasi pemutaran. Insiden-insiden ini menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan pegiat kebebasan berekspresi dan komunitas seni budaya.
Meskipun demikian, para penggagas pemutaran film melaporkan bahwa jumlah permintaan untuk mengadakan sesi nobar justru melonjak pascainsiden tersebut. Fenomena ini mencerminkan respons sebagian kalangan masyarakat yang memilih untuk menunjukkan dukungan terhadap kebebasan berkesenian di tengah tekanan yang ada.
Film Pesta Babi sendiri merupakan karya sinema yang mengangkat tema-tema sosial yang dinilai sensitif oleh sebagian pihak. Pemutarannya yang dilakukan secara komunitas — bukan melalui jalur bioskop konvensional — menjadikan setiap sesi nobar sebagai ajang diskusi dan ruang ekspresi bagi penontonnya.
Situasi ini memicu perdebatan publik yang lebih luas mengenai batas-batas kebebasan berekspresi, hak masyarakat untuk mengakses karya seni, serta peran negara dalam melindungi warganya dari ancaman dan intimidasi. Sejumlah organisasi hak asasi manusia dan komunitas pers menyerukan agar aparat penegak hukum bertindak tegas terhadap pelaku pembubaran paksa yang dianggap melanggar hukum.
Hingga berita ini disusun, belum ada pernyataan resmi dari pihak kepolisian maupun pemerintah terkait langkah konkret yang akan diambil untuk menjamin keamanan penyelenggaraan nobar Film Pesta Babi ke depannya. Para penyelenggara menyatakan tetap berkomitmen untuk melanjutkan pemutaran film di berbagai kota sesuai jadwal yang telah direncanakan.