Presiden Prabowo Subianto mengingatkan seluruh rakyat Indonesia agar tidak bersikap rendah diri atau mengagung-agungkan bangsa lain yang di masa lalu pernah bersikap eksploitatif terhadap Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo dengan merujuk pada sejarah panjang penjajahan yang dialami bangsa Indonesia sebagai landasan untuk membangun kepercayaan diri nasional.
Menurut Prabowo, warisan sejarah kolonialisme seharusnya tidak meninggalkan rasa minder pada diri bangsa Indonesia. Sebaliknya, pengalaman pahit di bawah penjajahan justru harus menjadi pengingat bahwa Indonesia adalah bangsa yang tangguh dan mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
"Kita tidak boleh merasa inferior kepada bangsa mana pun, apalagi kepada bangsa-bangsa yang dulu pernah menjajah dan mengeksploitasi kita," demikian inti pesan yang disampaikan Presiden, sebagaimana dilaporkan Tempo.
Prabowo menegaskan bahwa Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam, budaya, dan sumber daya manusia yang tidak kalah dibandingkan negara-negara maju. Oleh karena itu, sikap menghormati bangsa lain harus dibangun atas dasar kesetaraan dan martabat, bukan ketundukan atau kekaguman yang berlebihan.
Pernyataan ini sekaligus mencerminkan semangat kemandirian bangsa yang selama ini menjadi salah satu pilar utama dalam visi pemerintahan Prabowo. Sejak menjabat sebagai Presiden, Prabowo kerap menekankan pentingnya kedaulatan nasional di berbagai bidang, mulai dari ekonomi hingga pertahanan.
Dalam konteks hubungan internasional, pesan ini juga dapat dibaca sebagai penegasan posisi Indonesia yang ingin diperlakukan sebagai mitra setara oleh komunitas global, bukan sebagai negara yang mudah dipengaruhi atau didikte oleh kepentingan asing. Indonesia, sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, memiliki posisi strategis yang layak diperhitungkan di panggung dunia.
Seruan Prabowo ini disambut sebagai pengingat penting di tengah arus globalisasi yang kerap memunculkan kecenderungan sebagian masyarakat untuk mengidealkan standar dan nilai-nilai dari negara-negara Barat maupun kekuatan besar lainnya secara berlebihan.